![]() |
| Pengurus KKSSE Periode 2025-2030 |
DEN HAAG, BELANDA – Semangat persaudaraan dan kerinduan akan kampung halaman menyatu dalam kegiatan Tudang Sipulung yang digelar diaspora Sulawesi Selatan di Center Party Our House, Den Haag, Belanda, Sabtu (13/6/2026).
Acara yang mengusung tema “Satu Naungan, Satu Persaudaraan, Satu Rasa” ini mempertemukan warga Sulawesi Selatan yang bermukim di berbagai negara Eropa. Sejak siang hingga malam hari, suasana penuh kehangatan terasa ketika para peserta hadir mengenakan pakaian adat Bugis-Makassar, Toraja, hingga Mandar.
Alunan musik, sajian kuliner khas Sulawesi Selatan, serta percakapan dalam berbagai dialek daerah menghadirkan nuansa kampung halaman di negeri kincir angin.
Tudang Sipulung yang dalam bahasa Indonesia berarti “duduk bersama” merupakan agenda silaturahmi diaspora Sulawesi Selatan yang berada di bawah naungan Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan Eropa (KKSSE). Organisasi ini pertama kali dibentuk pada tahun 2016 di Paris, Prancis.
Kegiatan serupa sebelumnya pernah dilaksanakan di Belanda, Jerman, dan Swiss dengan menampilkan beragam seni budaya dan kuliner khas Sulawesi Selatan.
Tahun ini, acara menjadi lebih istimewa dengan dilaksanakannya pelantikan dan pengukuhan pengurus baru KKSSE Eropa, setelah organisasi tersebut sempat vakum sejak 2019 akibat pandemi Covid-19.
Dalam kepengurusan yang baru, Herlina Zain dari Belanda dipercaya sebagai Ketua KKSSE Eropa, sementara Husnah Manwan dari Hungaria menjabat Wakil Ketua.
Pelantikan dilakukan oleh Liliy Salurapa, Wakil Ketua Umum BPP KKSS Bidang Diaspora dan Hubungan Internasional, didampingi Dewi Sartika Pasande, Wakil Ketua Departemen Hubungan Internasional BPP KKSS yang hadir langsung dari Jakarta.
Pengurus yang dilantik berasal dari sejumlah negara di Eropa, di antaranya Belanda, Prancis, Jerman, Swiss, Austria, dan Hungaria.
Turut hadir mewakili Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Den Haag, Mariska Dwianti Dhanutirto, yang secara resmi membuka rangkaian pentas seni dan budaya dengan menabuh gendang.
Selain menjadi ajang silaturahmi, kegiatan ini juga menjadi wadah pelestarian budaya Sulawesi Selatan di luar negeri. Salah satu penampilan yang mendapat apresiasi dari peserta adalah tarian yang dibawakan kelompok diaspora Sulsel dari Swiss.
Mereka menampilkan Tari Malluya dari suku Mamasa, Sulawesi Barat, serta Tari Kalompoanna Parasanganta dari suku Makassar, Sulawesi Selatan. Penampilan tersebut berhasil mengobati kerinduan para diaspora terhadap tanah kelahiran.
Menurut para penampil, Tari Malluya tetap dipentaskan karena memiliki kedekatan historis dengan Sulawesi Selatan, mengingat wilayah Mandar pernah menjadi bagian dari provinsi tersebut sebelum terbentuknya Provinsi Sulawesi Barat.
Sepanjang acara, berbagai pertunjukan budaya seperti Pagellu, Mappadendang, Bosara, dan Akkarena Sipulung turut memeriahkan suasana.
Hingga acara berakhir sekitar pukul 21.30 waktu setempat, para peserta masih larut dalam kebersamaan. Bagi mereka, Tudang Sipulung bukan sekadar pertemuan diaspora, melainkan momentum mempererat ikatan kekeluargaan dan menjaga identitas budaya Sulawesi Selatan di tanah Eropa.
"Meski berada jauh dari kampung halaman, semangat persaudaraan Sulawesi Selatan tetap hidup dan terjaga di perantauan," menjadi kesan yang dibawa pulang para peserta dari pertemuan yang penuh makna tersebut.
Editor : Abdul Wahab Dai

